...

Oct 8, 2008

Diary (telat) Lebaran 2008

Tidak terasa iya setelah satu bulan penuh kita menjaga nafsu, nafsu perut, nafsu amarah, nafsu birahi dan nafsu-nafsu lainnya. Menjaga hati, pikiran, lisan dan semua indra dari segala hal yang dapat menghapus pahala maupun membatalkan puasa. Akhirnya datang juga hari yang dinanti, hari kemenangan, hari nan fitri, yang mengembalikan kita semua kembali fitrah, amiinn.

H-1 (malam takbir)

Usai berbuka puasa takbir pun mulai menggema bersautan. Antara musholla yang satu dengan musholla lainnya, masjid yang satu dengan masjid lainnya. Seusai sholat isya takbir keliling di kampung saia digelar. Dengan diiringi marching band takbir pun mulai menyusuri jalan utama kampung ke kampung tetangga. Ada yang istimewa takbir kali ini dibanding tahun-tahun kemarin. Kalau tahun lalu takbir keliling hanya diikuti marching band dan anak-anak kecil. Tapi kali ini, hasil kreasi para pemuda kampung penduduk diberi kupon undian berhadiah khas lebaran layaknya jalan santai. Alhasil banyak warga yang turut serta sekitar 80%. Sehingga takbir kali ini benar-benar meriah

Hari H (rabu, 1 syawal)

Tidak ada yang spesial hari ini sama halnya dengan tahun-tahun yang lalu. Takbir, sholat ied, bermaafan, silaturahmi ke sanak saudara, tetangga, dsb. Yahh tradisi yang sudah biasa saat lebaran.

H+1 (kamis, 2 syawal)

Setelah kemarin bermaafan dan silaturahim kesana kemari hari ini saya memutuskan untuk di rumah saja terima tamu sekalian istirahat. Malamnya mulai bergerilya kembali ke kakak dan saudara2nya yang tinggal di kawasan Taman Safari 2 prigen.

H+2 (jumat, 3 syawal)

Hari ini saya begitu bahagia, senangnya tak terkira, senangnya tergantikan. Lo kenapa Ros? ya karena saya bisa bertemu kembali dengan sobat-sobat SMA, setelah empat tahunan berpisah. Ya hari ini ada undangan reuni sekaligus silaturahmi lebaran. Saat seperti inilah yang saya tunggu. Bisa bercanda lagi, bergurau, bernostalgia, dsb. Setelah acara kelar dilanjutkan ke rumah seorang sobat yang tidak bisa hadir karena sakit dan juga ke rumah rumah sobat yang tadi hadir ke acara, meski tidak semua di datangi. Tapi hari ini cukup membuat saya bahagia.

H+3 (sabtu, 4 syawal)

*blaank, yang mau di kletak-kletik apaan ne ?*
Oo iya hari itu saia silaturahmi ke saudara yang tidak tinggal se-kota. Melainkan di luar kota, tepate di Malang. Begitu pagi menjulang, saia pun berangkat bersama ibu dan saudara yang lain menunggangi kuda besi masing-masing. Melaju dengan kecepatan tinggi mengejar waktu. Tapi, memasuki kawasan Purwosari sampai Lawang mesti menurunkan kecepatan, karena kencangnya angin yang sangat tidak bersahabat. Sambil terus menyusuri jalan sembari menikmati indah dan dinginnya kota apel, sampailah kita di tempat tujuan. Tepatnya di Pujon-Batu yang mulai tidak seberapa dingin seperti saia waktu kecil dulu. Mungkin karena banyak pohon-pohon besar yang mulai hilang kali iya ? Wahh bisa bisa 10-25 tahun kedepan Malang bisa jadi kayak Surabaya yang panaass.

Kebahagiaan dan haru pun pecah tatkala kita saling bertemu dan mengucap maaf. Tapi terasa begitu kurang karena beberapa saudara tidak berada di tempat. Ada yang mengais rezeki ke negara orang. Ada yang 'telisipan' jalan malah silaturahmi ke Pandaan, rumah kita. Setelah silturahmi ke saudara utama dilanjutkan ke saudara-saudara lain, ke pesarean (pemakaman, ros), meras susu sapi, dsb. Bicara soal memeras susu jadi teringat-ingat ne, gimana saudara2 sepupu minum susu langsung yang baru diperas. Gimana rasanya iya? tidak amis apa? yang jelas, biar penasaran saia memang tidak mau *ketir-ketir*.

Ahh sudah sore nampaknya, kita mesti pulang kembali ke kampung halaman tercinta. Kita pun pulang pamit, diluar dugaan kita di bekali oleh-oleh hasil panen sawah yang tidak bisa didapat di kampung saia. Diantaranya kentang, siyam, dsb. Kalau sepupu saia malah bawa pulang susu hasil perasan tadi. So ? Pulaangg. Begitu turun dari Batu, di Malang mulai gerimis. Tapi saia tetap melanjutkan perjalanan, karena saia kira tidak bakal turun hujan. Tapi semakin ke utara arah pulang mendung semakin gelap. Diluar dugaan hujan deras turus dengan sangat lebatnya. Baru sekarang saia merasakan hujan tahun ini. Di Pasuruan khususnya di Prigen, hujan adalah suatua hal yang sangat mahal, tidak pernah hujan sama sekali.

Tapi di Malang, hujan sepertinya menjadi hal yang biasa. Buktinya pengendara motor lainnya sudah siap sedia dengan jas hujan. Berbeda dengan pengendara luar kota yang mesti berteduh. Ini terlihat ketika saia untuk beberapa menit berteduh di sebuah ruko, pelat nomor mereka rata-rata W (Sidoarjo) dan L (Surabaya). Karena hari semakin gelap, saia pun memutuskan untuk terus jalan meski butir-butir air hujan yang tajam terus menghantam tubuh. Sementara saia harus pulang, meski haru menerjang banjir-banjir yang menghadang.

Bagaimana di kota sobat-sobat sekalian sudah hujan belomm ?? dan gimana pengalaman lebaran kali ini, tentunya ada yang berkesan kan ?


.

Artikel Terkait:

Bookmark and Share

Comments :

10 Komentar to “Diary (telat) Lebaran 2008”

minal aidin wal faizin
kok ya lagi di posting liyane wes mlayu meh ganti topik idul adha ki

Cebong Ipiet said...
on 

@gajah: iya-iya tak maapin. rumah saia jgn di seruduk iya *piss*

@cebong: *cekeli ben ra mlayu* hehe baru sempet ce. la ebongna gag bantuin posting xixixi

aR_eRos said...
on 

wah panjag juga nih diary,..oh ya met lebaran aja ya,..sering2 mampir ke blog aku...kita tukar pengalaman...ok..

dede said...
on 

Ros, masih boleh khan saya menyampaikan permohonan maaf lahir dan bathin :)

Hellen said...
on 

minal aidzin wal waizin
makasih mas udah mampir di blogku

estulyr said...
on 

@Hellen: lo yang namanya mnta maaf kan bole kapan saza. tidak harus lebaran kan.

@estulyr: akhirnya datang juga !! hehe makasih juga udah mampir.

aR_eRos said...
on 

@bagdemagus: ya ya kesinio pasti tak suguhi *cari linggis* hehehe. Lo? buat apa Ros, buwat ngelinggis napi iya? Bukan! buwat ngeduk singkong tu *alibi*

aR_eRos said...
on 

Post a Comment